Peluru dan Waktu


Menjadi manusia ternyata sangatlah sulit. Bekerja, berlari, motivasi harus jadi sahabat sehari-hari. Lelah, lupa, lalai harus jadi sifat melekat diri. Tapi, menjadi manusia ternyata sangatlah mudah. Bernafas, ekskresi, refleks sudah jadi mampu diri. Acuh, tawa, akal sudah jadi jati diri.

Pernahkah kita berpikir tentang kematian dalam kehidupan? Tentang matinya harap dalam ribuan asa yang terbentuk dan hancur bersama kemunculan petaka. Hilang sudah tujuan kita dilahirkan, punah pula semua alasan tuk menghirup hidup. Hanya hak mutlak yang kini dipegang, tak dipertahankan pun tak terlepas. Hal itu jadi penopang kosongnya mimpi dalam hayat. Oh ya, satu lagi terlupa, waktu. Andaikan waktu ikut meregang, maka yang terjadi terjadilah, Kun Fayakun.

Waktu jadi hambatan tuk mati semati-matinya, jadi masa lalu tak terelakkan dan menjadi takdir di masa depan hingga hayat benar-benar lelah. Lelah menunggu sang waktu untuk lelah, meninggalkan semua pekerjaannya seraya berucap "Aku pergi". Dan kita pun terkapar dalam khayalan  tak terhingga, tak hingga, hingga kita sadar betapa amat pilu berpikir akan waktu yang tak kenal sendu. Dan waktu masih akan terus begitu.

Peluru-peluru menusuk-nusuk keakuanku. Besi-besi pembunuh masuk tanpa izin serang titik terdalam diri. Terjatuh enggan tersungkur tak mau, berdiri ogah bangkit tak sudi. Apa maunya?

Peluru itu hancurkan aku, kamu, mereka, semua. Tanpa ampun dia lakukan pada hati-hati tak berpenghuni. Pada asa yang telah pergi dari tuannya. Dia akan terus begitu hingga tak ada lagi waktu yang berkesempatan hinggap pada diri-diri yang hidup di masa lalu yang kini tak berasa.

Peluru dan waktu akan terus begitu. Berhadapan saling membunuh bertautan saling menikam. Mahadaya alam tak pelak hadir dalam pertarungan sengit ini. Datangkan asa yang hilang dan pulangkan pada jiwa kesepian penunggu ajal. Peluru kembali tikam asa, waktu pun kembali kalah. Akan terus begitu hingga keduanya lelah. Meski mati bukan akhir, setidaknya asa telah abadi.









Harian Aku : Equilibrium




Sore, November 2014

Surya. Mata. Binar.
Matahari tampak menunggu gilirannya dengan rembulan. Aku pun menunggu giliranku dengan diam.
 "Giliran untuk apa?" Gumamku dalam hati.
Aku bingung. Selalu bingung. Terus bingung. Membingungkan. Lupakan.

Beraktivitas seperti hari kemarin dan kemarin dari kemarinnya lagi, tetap dengan keceriaan akan indahnya hari esok dan esok dari esoknya lagi. Menjauh dari kemarin dan mendekat pada esok, itulah aku sekarang. Berjalan lalui langkah untuk tapaki langkah baru, itulah aku sekarang. Hari inilah, itulah aku sekarang.

Seperti biasanya, kelas riuh dengan nyanyian kata penghuninya. Aku giat berkutat dengan akuntansi, tak berbeda dengan penghuni kelas lainnya. Pa bagas, dosen kesayangan kami hari ini tidak dapat masuk, tetapi kedatangan beliau tergantikan dengan tugasnya yang amburegul ameseyu bahrelway bahrelway. Nikmati sajalah pikirku.

Sepulang menimba ilmu, aku sempatkan pergi ke kantin. Sekedar membeli bungkusan "Sari Roti" dan Botol "Aqua" lalu pergi dengan sendiri. Meninggalkan apa yang terjadi hari ini, pada diri dan angan. Ini untuk pertama kalinya rasa bersalah mencecar keyakinan. Meski sepenuhnya aku yakin dengan apa yang meyakini keyakinanku. Apa mungkin aku sudah tidak yakin?

Hari ini aku hilang seketika. Merasa hina didepan kekuatan dan merasa juara dalam ketidakberdayaan. Rasa ampun saat ini tak berdaya. Mati ditelan bumi, hilang berbekas bintang, secercah cahaya kecil yang selalu aku coba raih. Hingga sekarang pun tak nampak bintang di tanganku atau bahkan mendekat dalam pandang, justru hilang tak terbilang tak berbilang tanpa bilang-bilang.

Sore kala November membawaku pada satu titik. Titik yang membawaku mendekati equilibrium antara kehidupan dan kematian. Titik yang membawaku pada apa yang harusnya kupandang bukan kukhayal. Titik yang menjadikan ketidakberdayaan menjadi sebuah kekuatan.

Akhirnya, sore ini menjadi lembayung kesedihan.
Akhirnya, sore ini menjadi fajar kebahagiaan.










Right this second

Sang Pencipta. Takdir.  Kita.

Aku bahagia hari itu. Kupasrahkan semua kebahagiaan untuk muncul dengan eloknya. Tak disangka, kaulah penyebabnya, kau penyebab semua bahagia itu. Kau indahkan semua buruk yang timbul, elokkan temaram dalam kelamnya malam. Ya, kaulah aku.

Mungkin kita bertemu tanpa terniat, tapi sadarkah engkau, kita tak pernah dipertemukan untuk tak beralasan. Kita bertemu untuk dan karena Tuhan. Karena ridho dan hendaknya. Tidakkah kau tak yakin?

Aku bersyukur Tuhan berikan alasan dan kesempatan untuk kita bersama. Berbagi semua kebahagiaan dan semua kesedihan, bercerita tentang semua kesenangan dan kesesakkan, berharap untuk masa depan dan kebersamaan. Yakinlah.

Kuperlihatkan semua harapanku untuk engkau. Dengan semua aku, seluruh sifat dan perangaiku.
Percayalah, engkau sangat kupercaya sangat kucinta.

Bulan temukan sinar yang teranginya yang sinarkan seisi bumi. Dan kau hadir bagai sinar yang sinariku. Selama-lamanya sampai Tuhan tahu kapan waktunya semua itu tuk berhenti.

I never loved you any more than I do, right this second. And I’ll never love you any less than I do, right this second

"Karena untuk bersamaku kau tak perlu bermimpi"





Harian Aku : Prolog




Pagi ini tak biasanya aku pergi tinggalkan mimpi dengan kesadaran yang cepat. Aku bangun lebih awal dari biasanya. Entah mengapa kejenuhan akan mimpi semakin menjadi, seakan kenyataan lebih menggiur menyapa menyentuh dalam diri. Mungkin aku bosan dengan keindahan mimpi atau bosan akan kenyataan didalamnya atau sadar bahwa mimpi itu adalah kenyataan. Berusaha meyakinkan hati bahwa pikiran ini lelah sungguh melelahkan. Aku tak bohong.

Pukul 7 kusongsong. Kini teh hangat hadir temani biskuit yang temaniku. Duduk di teras depan pikirku pilihan cocok. Menatap hangatnya surya dan rasakan syukurnya. Hal ini jarang bagiku terasa karena biasanya aku mati di pagi hari dan hidup setelahnya. Aneh rasanya melihat orang-orang menyapa dengan training outfit yang dipakainya sembari sesekali membasuh keringat dengan kain lembut di pundaknya. Sungguh aku lupa kapan terakhir kalinya aku seperti mereka. Sudah lama aku tidak bepergian untuk sekedar lari pagi atau berjalan ke taman depan komplek itu. Ah ini mungkin waktunya aku pecahkan "rekor"-ku itu.

Hari ini liburan rutin tiap minggu dimulai dan aku memulainya dengan olahraga pagi. Semua sudah kusiapkan termasuk raga yang akan terolah nanti. Tak lupa, sebotol susu coklat cair kubawa sebagai pengisi kelelahan. Oke, Aku Siap!

Hari itu, saat dimana ragaku dilatih dan pikirku diuji. Tugas kehidupan kembali mendatangi, membawa tantangan dan gundah di hati. Ah, Sejenak kupikir malas merajai, namun setelahnya semangat jadi pimpinan diri. Toh pada akhirnya manfaat akan merasuk hati dan tercermin dalam pribadi.

Inilah aku dengan cerita sehari-hari. Mencoba mencari dan terus mencari. Semoga Tuhan ridhoi. Tak ada alasan untuk tidak mulai. Jadi, ini waktunya untuk kembali. Rasakan perjuangan nadi dan kegigihan sanubari. Diam untuk mengerti, Kata untuk lebih mengerti dan Aksi untuk lebih dari sekedar mengerti.

 Hidup Bermanfaat, Mati Menginspirasi. Apalagi?

Persimpangan Jalan


Kadang saya bingung tentang seseorang yang mungkin ada kaitannya dengan sikap saya terhadap dia. Saya bingung apakah kaitan tersebut benar-benar ada atau benar-benar tidak ada atau terlihat ada seperti ada padahal tiada. Saya bingung apakah semua ini benar atau hanya konsepsi saya yang menganggap hal itu benar padahal belum tentu benar dan mungkin saja salah. Saya bingung apakah perasaan ini nyata atau hanya sekedar memperlihatkan eloknya lalu pergi, menghilang dan tidak akan muncul lagi, hanya tampak sesekali dan tidak pernah semuanya menjadi. Mungkin ada, tapi buram. Mungkin tidak ada tapi tampak. Mungkin memang ada tapi kegeeran, Mungkin memang tidak ada tapi terlalu peka.


Kali ini saya masih bingung. Belum bisa kesimpulan sekata pun saya buat. Hanya hipotesa yang saya sendiri pun tidak pernah tahu apakah data yang dipakai valid atau tidak. Ya berharap saja hipotesa berbanding lurus dengan kesimpulannya nanti.

Sekarang saya berharap. Berharap itu puisi lama, tapi selalu menjadi awal baru untuk sebuah hal. Semua harapan saya saya harap sesuai dengan apa yang saya harapkan. Saya tahu semua harapan semua keinginan semua emosi semua keegoisan saya tidak mutlak adalah terbaik bagi saya. Justru banyak hal yang tidak saya harapkan itulah hal yang menjadi baik bagi saya sekarang. Apakah kamu termasuk yang diharapkan atau tidak diharapkan oleh saya?

Waktunya untuk kamu. Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Apakah kamu menganggap saya itu ada? Atau menganggap saya itu tidak ada? Atau kadang-kadang ada? Kamu itu baik. Memberi sesuatu kepada saya. Ataukah kamu itu tidak baik? Memberi harapan kepada saya. Berbeda dalam satu persamaan dan sama dalam arti yang lain. Harapan dan sesuatu yang mungkin kamu berikan itu dengan mentah saya terima. Tidak saya lihat, atau dengar atau rasa.

Sekarang terasa. Rasanya semua mulai masuk, menggerogoti, memberi kebahagiaan sekaligus penderitaan. Memberi keceriaan sepaket dengan kecemburuan. Memberi kesenangan beserta sedihnya. Memberi Kekuatan juga kelemahan. Memberi rasa syukur sekaligus rasa menyesal.

Saya tidak pernah berpikir untuk menyesal. Bersyukur jauh lebih mulia. Saya ingin seperti itu. Menjadi orang yang pandai bersyukur. Dengan keadaan apapun, seperti apapun, seberat apapun. Saya hanya ingin bisa menikmati rasa syukur ini, meski sisi lainnya merasa kecewa lagi.

KopGul

Memecah Akal Meluap Rasa
Sore itu dia duduk bersandar hati. Aku berdiri berwajah seri, melihat dia merasa dia. Ya, aku memperhatikannya.
Sepulang mata kuliah kalkulus aku bergegas pergi mencari Gula, Si manis tak terbantahkan. Itu nama panggilanku untuknya, meski aku tak yakin akan benar-benar memanggilnya, memanggil namanya, mendekati dia dan berkata "kamu cantik". Ah, pikirku menjauh saat mendekatinya. Aku pulang tanpa menyapa, tanpa bekas.
Perjalanan pulang terasa berat. Bukan karena laptop "Axioo" yang kubawa, tapi karena penasaran yang dipikul. Aku masih tak percaya dengan diamku, termenung dalam kekakuan yang merajai diri, kalahkan kataku bungkam lisanku. Masih saja aku tak berdaya di depannya. Mungkinkah ini hanya awal saja. Cinta?
Bermain Mimpi Meraih Mungkin
Pagi gelap temani dingin menghangat. Secangkir hitam pekat itu temaniku dengan pahit dan manisnya. Dia jujur akan rasanya. Baik buruk dia tunjukkan semua. Tak ada kebohongan akan dirinya, siapa dirinya dan bagaimana dirinya. Oke, panggil aku si Kopi!

         Sfx : Tok tok tok. Selamat Pagi

Seorang perempuan masuk ke kelas fisika-ku. Semua orang dibuat terdiam.
                 "Maaf saya terlambat pa..."
Alamak! Tamparlah pipi ini bunda! Itu dia, itu Gula!

                "Tolong kerjakan tugas Hal. 3 bagian Elektromagnetik. 
              Saya tunggu besok pukul 7. Terimakasih"

Semua orang keluar dari kelas, kecuali aku yang hilang di akal, muncul melayang dan menatap dia. Rambut ikal pendek, lesung pipinya, senyum manisnya, rona matanya. Oh Tuhan, ampuni dosa hambamu ini yang menikmati indahnya ciptamu, buat rasa syukur ini meluap.
Untuk 1 tahun ini, stok semangatku tebal. IP tinggi siap kusongsong. Apalagi? Kau kan kucari, Kau kan kuraih!

KopGul

Fana-tik

Baru saja kembali dari membeli lembaran "loose leaf" di grosir depan pasar, saya dikejutkan oleh gerombolan pendukung sepakbola yang dengan kuasanya diam di ramainya lalu lintas sore hari mendung itu.
Mereka bernyanyi rayakan kekalahan musuh tim kesayangannya, rayakan kemenangannya. Klakson sepeda motor menjadi instrumen kala itu, memunculkan suara gaduh gemuruh tak menentu. Menimbulkan amarah pegawai yang baru saja pulang dari ricuhnya pekerjaan di hari itu, atau anak sekolahan yang pulang bermain dan belajar di kegiatan ekstrakurikuler kesayangannya, atau pebisnis yang merugi karena sepinya pembeli. Amarah tak tersampaikan, kalah oleh jumlah mereka, kalah oleh keberanian mereka, kalah oleh fanatisme mereka. Mereka menang di hari itu.
Bagaimana tidak, mereka mengadakan "konser" di tengah jalan di tengah padatnya kendaraan di tengah amarah orang-orang di tengah ke-fana-tik-an mereka.

Fana-tik. Tunjukkan dukungan, menunjukkan Nasionalisme.Kan? Atau bisa saya bilang fanatik itu kata lain nasionalisme yang berlebih. Baik? Tidak. Nasionalisme memang perlu, tapi semua yang berlebih adalah tidak perlu. Mubazir, pamali, ulah. Tah eta.

Fana. Bukankah itu kepalsuan yang dihayati? Menjadikannya nyata. Yang fana tidak selalu salah. Karena apa-apa yang ditimbulkan fana dikarenakan penggunanya pula. Taat, sholeh, patuh. Itu kan baik. Karena penggunanya baik. Anarkis, irrasional, pemberontak. Itu buruk. Karena penggunanya buruk. Jadi sifat fanatik ditentukan penggunanya. Bisa jadi baik, bisa jadi buruk.

Ohya. Fanatik itu apa ya? Menurut KBBI :
fanatik /fa·na·tik/ a teramat kuat kepercayaan (keyakinan) thd ajaran (politik, agama, dsb):
Pa Ustad kampung sebelah fanatik dong? Pemimpin Senayan fanatik juga? Saya fanatik juga kah?
Tergantung. Mau baik apa buruk?
"Fana-tik"